Teh Daun Jati Belanda

 

Indonesia sebagai salah satu negara yang kaya akan sumber daya alam, merupakan negara yang sangat potensial dalam bahan baku obat. Ribuan jenis tumbuhan yang diduga berkhasiat obat, sudah sejak lama secara turun-temurun dimanfaatkan oleh masyarakat kita. Biasanya, selain untuk pengobatan juga dimanfaatkan sebagai pencegahan dan pemulihan stamina serta kosmetika.
 
Daun adalah salah satu bagian tanaman yang sering dimanfaatkan menjadi ramuan untuk obat – obatan herbal. Pengobatan secara herbal banyak dipilih orang, karena lebih aman, tidak mempunyai efek samping, dan bahannya mudah didapat.
 
Daun Jati Belanda adalah salah satu daun yang sering digunakan orang sebagai obat – obatan herbal. Pohon jati belanda berasal dari daerah tropis di benua Amerika, dibawa ke Pulau Jawa oleh orang Portugis. Tanaman dari kelas Dicotyledonae ini termasuk dalam famili Sterculiaceae, dan berasal dari negara Amerika yang beriklim tropis. Tanaman ini tumbuh di dataran rendah sampai dengan ketinggian 800 mdpl. Jati belanda biasanya ditanam sebagai pohon peneduh, tanaman pekarangan atau tumbuh liar begitu saja.
 
Jati belanda ( bastard cadar dalam bahasa Inggris) merupakan pohon yang berbatang keras bercabang, berkayu bulat dengan permukaan batang yang kasar, dan berwarna coklat kehijauan. Daunnya berbentuk bulat telur berwarna hijau dengan pinggiran bergerigi, permukaan kasar, ujung rucing, pangkal berlekuk, pertulangan menyirip berseling, dan berukuran panjang 10-16 cm serta lebar 3-6 cm. Bunganya, berwarna kuning, berbau wangi serta memiliki titik merah di bagian tengah, berbentuk mayang dan muncul di ketiak daun. Buah dari tanaman ini berbentuk bulat, keras, memiliki lima ruang, permukaan tidak rata berwarna hijau ketika muda dan berubah menjadi cokelat kehitaman setelah tua.
 
Tanaman ini biasanya diperbanyak dengan biji, cara memperbanyak dengan cangkok masih sulit dilakukan dengan tingkat keberhasilan 50 persen. Ditambah lagi, cara setek dengan perlakuan khusus sekalipun belum banyak membantu. Daun Jati belanda akan siap dipanen ketika pohon sudah berumur 2-3 tahun dan akan berbuah setelah berumur kurang lebih 5-6 tahun.
 

Daun, buah, biji, dan kulit kayu bagian dalam merupakan bagian tanaman yang bisa dipergunakan sebagai obat. Dewasa ini daun jati Belanda juga dapat digunakan sebagai obat elephantiasis atau penyakit kaki gajah. Gejala khas yang timbul dari penyakit ini adalah adanya pembengkakan yang sangat besar pada jaringan – jaringan pengikat dan pembuluh getah bening. Penyakit ini disebabkan oleh aktivitas sejenis cacing yang menyumbat aliran getah bening. Buah jati belanda bisa juga dimanfaatkan untuk obat diare dan batuk, sedangkan kulit batangnya cocok untuk tonikum, serta obat penyakit lepra dan herpes.
 
Banyak penelitian membuktikan bahwa daun jati belanda bermanfaat untuk menurunkan berat badandengan cara mengurangi pembentukan lemak, menguruskan dan merampingkan badan. Secara empiris, beberapa tanaman obat yang juga dapat digunakan untuk menurunkan bobot badan, antara lain buah matang mengkudu (Morinda citrifolia), buah matang nanas (Ananas comosus), daun jati belanda (Guazuma ulmifolia), buah delima (Punica granatum), rimpang temu giring (Curcuma heyneana), rimpang bangle (Zingiber purpureum).
 
Sejak dulu, masyarakat Indonesia terutama yang tinggal di Pulau Jawa telah mengenal dan memakai air rebusan daun jati belanda sebagai bahan baku jamu pelangsing tubuh, biasa disebut galian singset(bahasa Jawa).
 
Belakangan, daun jati belanda dipercaya memiliki manfaat lebih dari sekedar menurunkan berat badan. Daun jati belanda juga berpotensi untuk dikembangkan sebagai herbal pengontrol kolesterol.

Di Pondok Makan Pelem Golek, daun jati belanda telah diolah sedemikian rupa menjadi teh celup. Hal ini dilakukan untuk memudahkan konsumen mengkonsumsinya. Cukup dengan 1 sachet ke dalam gelas berisi air panas, maka konsumen dapat memanfaatkan teh celup untuk kesehatan tubuh.